Diberdayakan oleh Blogger.
  • Home
  • Life
  • Travel
  • Style
  • Skin
    • Make Up
    • Skin Care
  • Sewing

Dini's Thought

Hallo! Akhirnya menulis kembali setelah beberapa waktu lalu berhenti karena kehabisan topik hahaha. Di artikel kali ini, aku ingin membahas Make Up yaitu Purbasari Oil Control Matte Powder. Bedak ini murah sekali! Tapi meskipun murah, apakah bedak ini murahan? Hmm.. we'll see. 

Aku menulis review ini berdasarkan pengalaman ku menggunakan Purbasari Oil Control Matte Powder dengan dua cara yaitu dengan menggunakan powder brush dan powder sponge.

Skin Condition: 
My skin is normal to oily (only in nose area, not T-Zone). Btw my shade in this powder is natural.
Saat memakai produk ini, aku hanya memakai concealer tanpa primer, foundation dan setting spray.

Detail:
Seperti namanya, bedak ini diperuntukan untuk menahan minyak di muka, membuat muka terlihat matte alami sepanjang hari dan juga menghilangkan kekusaman pada wajah. Purbasari Oil Control Matte Powder ini mengandung silika yang bermanfaat mengontrol sebum, safflower seed oil yang akan mencerahkan dan melembabkan wajah, uv filter dan matte finish formula.


Condition:
I started my make up at 11.30 am, keluar rumah jam 11.00. Kondisi di luar panas terik dan aku harus naik gojek dan naik krl (curhat). Btw, aku juga pake masker. Aku di luar selama 10 jam, touch up sekali waktu sholat zuhur (hanya nambahin bedak di hidung). Oh ya dan muka-ku 3 kali kena air untuk wudhu.
Saat di kereta, jam 11.30 hidung ku mulai berminyak tapi nggak lebay cuma kelihatan silau-silau dikit. 

Pros:
- Purbasari Oil Control Matte Powder cukup menahan minyak. Bagian muka ku yang berminyak hanya hidung karena hidung ku gampang ingusan juga sih jadi produk make up di hidung paling cepat luntur, bagian t-zone lainnya kering gak silau. Minyak pasti ada ya, namanya nggak pake foundation. Untuk kulit yang super minyak perlu ditambah dengan primer dan setting spray supaya dapat hasil yang paripurna :p
- Concealer dan blush on ku tetap stay di muka, nggak creasing dan pudar.

Cons:
- Covarage-nya kurang karena menggunakan brush.
- Sponge bawaannya jelek.


Condition:
Again, I started make up at 11.00 am. Keluar rumah jam 11.30. Tapi untuk percobaan kali ini, aku hanya keluar selama 4 jam. Tanpa menggunakan masker, nggak naik gojek/krl dan terpapar sinar matahari.
Dan lagi-lagi, bagian yang berminyak hanya di hidung.
Oh ya, sponge yang aku gunakan bukan dari Purbasari Oil Control Matte Powder. Aku beli terpisah di Watsons.

Pros:
- Finally I can see the covarage. Aku lebih puas dengan hasilnya saat menggunakan sponge. Warna kulit muka jadi lebih merata, muka juga terlihat lebih matte dibandingkan dengan brush. 
- Minyak di hidung lebih sedikit daripada percobaan sebelumnya.
- Concealer ku juga tidak creasing.

Cons:
- Sponge bawaannya jelek.

Conclusion:
Overall, aku sangat puas dengan Purbasari Oil Control Matte Powder. Kinerja produk sesuai dengan klaim yang disebutkan. Ukurannya pas untuk dibawa berpergian, ada kaca-nya. Dan yang paling penting, harganya murah! Aku beli Purbasari Oil Control Matte Powder di Watsons, saat itu sedang ada diskon jadi harganya kurang dari Rp 20 000 sekitar Rp 17-18 ribu. Harga asli dari Purbasari Oil Control Matte Powder kalau tidak salah Rp 30 000-an.

Repurchase? 
Liat nanti hehe.. mau coba brand lainnya.




Maret 26, 2018 No komentar
Hallooo semuaa, melanjutkan cerita ke Sabang part 1. 
Di chapter ini aku akan membahas waktu main-main di Iboih.


Di pagi hari setelah melihat sunrise yang nggak sempat di foto, kami lanjut sarapan di hotel. Sarapan ini bayar lagi ya nggak gratis hahaha. Hari itu hari Jum'at, so kami nggak bisa langsung nyemplung untuk snorkeling. For killing time, kami jalan ke pantai Iboih lewat jalur darat nggak pakai speedboat. Di pantai kita cuma duduk-duduk, minum es kelapa dan beli oleh-oleh berupa tas, baju, celana etc you name it-lah.

 Pemandangan saat nunggu jumatan

Setelah selesai Jum'atan, kami langsung meluncur ke spot snorkeling di Iboih menggunakan speedboat dari hotel (bayar lagi ya, nggak gratis) tapi jaket pelampung dan google gratis kok. 
Di spot ini ramai sekali dan di pinggir laut jadi tidak dalam cocok untuk anak-anak.

Airnya biruuu jernih

Spot untuk snorkeling

Di spot ini kamu bisa lihat banyak ikan-ikan yang aku nggak tau namanya apa not nemo or dori. Kamu bisa kasih makan juga, makanannya bisa di beli di warung. Jadi ketika kamu kasih makanan, ikan-ikan akan langsung ngerubungin. As you can see in this video.


Setelah selesai snorkeling, kami makan siang di warung. Makanan paling umum kalau habis main air yaitu: indomiee dan es kelapa muda hahaha. Tidak cukup, kalau udah jauh-jauh ke Sabang cuma snorkeling di 1 spot. So setelah makan, kami lanjut ke sebatik, lokasinya itu dekat dengan hotel sekalian rute balik. Dari spot sebelumnya kami dijemput lalu 'dilempar' ke laut yang namanya Sebatik, like I said before karena lokasinya dekat dengan hotel, kami nggak perlu dijemput lagi cukup berenang saja untuk balik ke hotel.

Di Sebatik karena ini laut bukan pantai seperti di spot sebelumnya, pemandangan bawah laut yang bisa dilihat itu ada banyak karang, ikan-ikan kecil dan yang pastinya dalam banget. But don't worry karena kamu sudah pakai pelampung.


(Tapi sejujurnya aku takut banget.... aku cuma bisa diem aja sambil narik-narik baju sepupu aku, padahal aku bisa berenang tapi tetap aja kan laut itu dalam sekali aku takut tenggelam hehe)


Chillin' setelah snorkeling

Long story short di malam hari kami fine dinning ala-ala di restauran hotel. Kami makan 2 ikan laut ukuran besar (yang aku juga lupa namanya) total makan malam ialah Rp 700 000. Kita deal dengan si ibu yulia dari sore hari, di kompor-komporin udah ke Sabang belum afdol kalau belum makan itu (katanya).

+ Cumi goreng tepung yang belum jadi. Fyi ini porsi untuk 5 orang ya

Esok hari, our last day. Kami check out jam 08.00 pagi karena mau ke tugu nol KM. Sebelum check out kami sudah contact supir taxi yang mengantar kami di hari pertama untuk minta dijemput di pantai Iboih.

Perjalanan dari hotel ke tugu nol KM butuh waktu sekitar 45 menit, jalanan Sabang sangat lancar dan nggak ada macet. Oh iya, jalanan ke tugu nol KM ini menanjak dan muter-muter seperti di puncak.
Sampai disana, seperti tempat mainstream pada umumnya. Ramai sekali sampai-sampai kami udah nggak nafsu untuk foto di tugu nol KM yang versi bagus. 

Ini tugu yang bagus, see banyak sekali yang foto disitu 

Ini tugu yang jelek, tugunya aja yang jelek orangnya sih enggak

Puas foto, kami lanjut makan (lagi padah sudah sarapan di hotel). Pemandangan dari warung disana bagus langsung menghadap laut lepas. Oh ya, di tugu nol KM ini banyak monyet jadi hati-hati dengan barang bawaan. Tau kan monyet suka iseng, jadi jangan sampai diisengin monyet! Malu

Sampai di pelabuhan Sabang, kami harus ngantri lama (banget) untuk dapat tiket. And thank God, kami dapat tiket kapal cepat terakhir jam 16.00. 

Sebenarnya, flight kami itu keesokan harinya. So we spent 1 day in Banda Aceh. Kami menginap di Permata Hati Hotel karena hotelnya murah but dan di Traveloka tulisannya sih dekat dengan tempat wisata tapi ternyata untuk ke tempat makan yang kami inginkan agak jauh.
Tips untuk kalian yang mau ke Banda Aceh, jangan pergi waktu libur lebaran. Semuanya tutup :( 
Padahal aku pengen banget makan roti cane, mie aceh hits di Banda tapi tutup semua. Terpaksa deh makan mie aceh yang buka aja.

Teh tarik for life

Nah ini, kopi Aceh!

Selama di Banda kami pergi menggunakan taxi yang dipesan dari hotel. Biayanya nggak jauh beda dengan di Sabang, taxi dengan mobil pribadi dan argo hasil nego bersama.

So that's all my story about my trip to Sabang. Hope you enjoy it and inspired to go there!

Btw you can see my snorkeling video on my instagram :)

Total biaya:
Hari kedua
Sarapan: Rp 40 000
Snorkeling: Rp 60 000 (Rp 300 000 dibagi 5)
Makan siang: Rp 40 000
Makanan ikan: Rp 20 000
Dinner: Rp 140 000 (Rp 700 000 dibagi 5)
Oleh-oleh: Rp 300 000

Hari ketiga
Sarapan: Rp 40 000
Taxi: Rp 50 000 (Rp 200 000 dibagi 5)
Jajan di 0 KM: Rp 50 000
Tiket kapal: Rp 80 000
Jajan di pelabuhan: Rp 40 000
Taxi ke hotel: Rp 24 000 (Rp 120 000 dibagi 5)
Hotel: Rp 133 333 (Rp 400 000 dibagi 3)
Taxi di Banda: Rp 30 000 (Rp 100 000 dibagi 5)
Makan malam: Rp 60 000 (Mie aceh, teh tarik)
Taxi ke bandara: Rp 24 000 (Rp 120 000 dibagi 5)

Total biaya: Rp 1 543 333
Februari 14, 2018 1 komentar
Hallo readers! Posting-an kali ini masih bertema travel. Pengalaman jalan-jalan yang akan ku sharing adalah my Sabang trip last year. Sudah cukup lama sih, aku pergi bulan Juni 2017 atau sudah 7 bulan yang lalu. Tapi karena baru ada niat untuk nulisnya sekarang, so better late than never, right?

So, here we go..

Disclaimer:
Trip ini dilakukan h+3 lebaran & 5 orang.
Nominal yang disebutkan di judul tidak termasuk tiket pesawat menuju Banda Aceh.
Trip ala backpacker, so we choose the cheapest price for every option.
Kami menginap selama 3 hari 2 malam di Sabang.
Trip dilakukan tanggal 29 Juni - 01 Juli 2017.



First thing to do is making itinerary. Karena goals liburan ini cuma 'mantai', itinerary yang dibuat itu sangat simpel cuma untuk sampai hotel saja abis itu tinggal go with the flow. 

Jadi trip ini itu mendadak banget, kami deal akan pergi itu waktu h+1 lebaran. Btw kami disini aku dan sepupu-sepupu ku. Setelah deal untuk jalan-jalan ke Sabang yang pertama kami booking adalah pesawat ke Banda Aceh. Tiket pesawat dari Jakarta ke Banda Aceh saat itu harganya sama rata untuk semua maskapai (Garuda, Lion Air dll) karena sama jadi pilih Garuda lah (dapat makan gratis kan cin), harga tiket saat itu +- Rp 1 juta. Pulangnya? 2 kali lipat tapi Lion Air, Garuda lebih lebiih lagi.

Setelah dapat tiket, selanjutnya menentukan penginapan. Karena goals kami adalah mantai, jadi pastinya kami pilih hotel yang langsung punya akses ke pantai tanpa harus repot-repot sewa mobil dulu. Ada 2 'resort' yang kami hubungi yaitu Yulia Bungalow dan Iboih Inn but at the end kita memutuskan tinggal di Yulia Bungalow.

Kenapa?? 

Yulia Bungalow lebih murah dari Iboih Inn, akses pantainya sama karena mereka sebelahan. Di Iboih Inn ini banyak bule, lalu restauran mereka lebih artsy gitu sih untuk jadi tempat galau memandang lautan. 

Beres 2 hal penting tersebut. Habis itu cus langsung kami semua ke Banda Aceh. Kami ber-5 datang dari kota yang berbeda-beda, aku dan adikku dari Jakarta, sepupu-sepupuku datang dari Surabaya dan Medan. Sampai Banda Aceh langsung meluncur ke Pelabuhan Ulee Lheu. Untuk kesana, kami nebeng temanku yang kebetulan tinggal di Aceh tapi kalian bisa naik taxi atau bis damri (pastinya lebih murah bis damri).
 Sampai disana antrian tiket sudah super panjang! Kami mengantri selama 6 jam (adikku sih yang ngantri) dan berhasil dapat tiket untuk jam 16.00. Kapal yang kami gunakan itu Express Bahari kelas executive, harga tiketnya Rp 80.000 per orang.
To be honest, sistem ticketing disini buruk banget sih. Semuanya manual, lalu sistemnya buka-tutup (udah kayak tol puncak). Aku ngantri dari jam 09.30 untuk beli tiket terakhir jam 16.00, logikanya kan kalau sudah ngantri jauh-jauh jam bisa dapat tiket lebih cepat. Ternyata..... kalau mau beli tiket jam 16.00 kamu harus ngantri jam 14.00, sedangkan antrian depan kita itu udah panjang banget (dan mau beli tiket jam 16.00 juga). Dilema dong, kalo kita nggak ngantri sekarang pasti nanti tidak akan kebagian tiket. Tapi demi bisa nyebrang ke Sabang, dijabanin deh ngantri 6 jam :')

sumber: google

Setelah dapat tiket, kami nunggu 1 jam untuk naik kapal. Butuh waktu 1 jam untuk sampai ke Pelabuhan Balohan, Sabang. Jarak tempuh dari pelabuhan ke hotel cukup jauh, it takes 50 minutes by car. Di Sabang nggak ada Gojek (di Banda Aceh juga nggak ada sih) jadi kita harus dealing dengan local driver seperti taxi bodong kebanyakan harga yang dipatok sangat mahal dan tapi karena mereka memonopoli pasar taxi jadi nggak ada pilihan lain deh :')

Ongkos taxi yang kami bayar adalah Rp 200 000. Oh iya untuk ke Yulia Bungalow ini, nggak bisa menggunakan mobil. Jadi mobil hanya mengantarkan sampai ke Pantai Iboih saja. Disarankan sebelum ke Pantai Iboih kalian berhenti di warung dulu untuk beli snack, perlengkapan mandi etc (kalau nggak bawa dari rumah).

Kami sampai di Pantai Iboih itu jam 6 atau 7 sore lalu kemudian dijemput oleh Bang Randy dari Yulia Bungalow menggunakan speed boat. Sebenarnya jalan kaki juga bisa tapi lebih jauh dan nggak ada lampu penerangannya juga. Few minutes later, sampailah kami di Yulia Bungalow.

Kami pesan 2 kamar yaitu ekonomi sea view dan bisnis garden view. Sebenarnya ingin sea view keduanya tapi cuma available satu saja. Harga kamar untuk ekonomi sea view Rp 310 000 per malam dan bisnis garden Rp 400 000 per malam. (FYI diskon 10% jika menginap 2 malam).

Untuk detail jenis kamar yang dimiliki Yulia Bungalow kalian bisa klik disini 

 Yulia Bungalow
Kamar ekonomi seaview
Kamar bisnis garden

Pemandangan dari kamar ekonomi sea view

Selesai hari pertama di Sabang. Cerita mengenai snorkelling, makan seafood sampai blenger dan keseruan lainnya akan ada di part 2. Ciao bella!

Recap biaya hari pertama
Ferry - Rp 80 000
Makan saat nunggu Ferry - Rp 40 000
Taxi di Sabang - Rp 40 000*
Makan sebelum ke hotel - Rp 30 000 (Indomie)
Hotel - Rp 240 000*
Total : Rp 430 000

*Taxi Rp 200 000 dibagi lima penumpang.
*Hotel kamar bisnis garden Rp 720 000 untuk 2 malam dibagi tiga orang.
Februari 04, 2018 1 komentar
Annyeonghaseyo chingu-deul! Setelah beberapa hari yang lalu aku posting mengenai pengalaman ku ke Korea dengan travel agent. Sekarang, aku ingin sharing tentang pengalaman belanja per-makeup-an di Korea. As u know, kalau ke Korea pasti sudah ngebayangin mau beli make up/skincare merk apa aja dan pastinya menyiapkan budget khusus hahaha (aku gitu sih, nggak tau kalau yang lain).

So, lets start!

Waktu aku di Korea, aku belanja make up di 2 tempat yaitu di Dongdaemun dan Myeongdong. Di Dongdaemun aku belanja di store Nature Republic yang terletak di depan Dongdaemun Design Plaza (DDP). Kemudian di Myeongdong itu di Shinsegae Duty Free dan store-store sepanjang Myeongdong.

Where's my favorite place? Shinsegae Duty Free!

Sumpah ya kalian kalau mau belanja dalam jumlah banyak dan nggak mau repot-repot untuk keluar masuk toko plus ngurusin tax redeem di bandara, duty free shop adalah pilihan yang tepat. Di duty free shop kalian bisa dapat barang-barang dengan harga yang lebih murah dari official store dan kalian tetap dapat free sample juga (wajib ya gratisan). TAPI untuk beberapa brand kalian harus beli more than one. Contoh waktu itu aku mau beli Etude drawing eyebrow (cuma mau beli 2) aku nggak bisa beli karena minimal beli 6 dengan shade yang sama dan kebetulan nggak ada yang mau beli itu juga jadi nggak bisa saling nebeng belanjaan deh. Akan tetapi, kalau kamu dititipin banyak barang (merk yang sama) kamu wajib banget belanja disini. Nggak akan menyesal. Tapi... like I said before nggak semua brand seperti itu, brand Laneige dan cosrx kalian bisa beli satu piece aja kok. Plus pramuniaganya bisa bahasa inggris, jadi kita nggak harus pakai bahasa tubuh untuk explain barang yang mau kita beli hahaha.

Selain itu, si Shinsegae Duty Free ini terletak di Myeongdong, persis di depan Myeongdong street. Jadi kalau kalian belum puas belanja disini, kalian bisa lanjut belanja di Myeongdong.

source: google

Setelah puas belanja di Duty Free, mungkin kamu masih kelupaan beberapa barang yang belum terbeli atau tergiur dengan teriakan-terikan mas/mba di Myeongdong (LOL). Segeralah belanja daripada terbayang-terbayang terus sampai di Indonesia.


 Myeongdong

Di official store kamu bisa dapat tax free jika kamu belanja up to 30,000 Won. Berapa jumlah tax free yang kamu dapatkan? I don't know aku nggak ngerti cara ngitungnya. Setiap kamu belanja lebih dari nominal tersebut, make sure kamu harus minta tax free form. Si pramuniaga pasti akan minta pasport kamu saat sedang pembayaran TAPI dia tidak akan kasih kamu tax free form jika kamu nggak minta (menurut gue pelayanan kayak gini jelek banget sih), bukan hanya di beberapa store tapi di seluruh store. Mungkin dikira mereka kalau kalian nggak minta, kalian nggak butuh tax redeem. 

Aku baru menyadari hal tersebut waktu aku sampai di bandara, baca-baca struk kok nggak ada nomor pasportnya gimana mau redeem tax. Eh ternyata harus minta tax free form! Kenapa aku nggak minta? Karena tour guide aku nggak ada info apa-apa dan waktu kami belanja di Kimchi School, Ginseng Shop, Red Pine (toko oleh-oleh yang wajib didatangi kalau kita pake travel agent) selalu dikasih tax free form tanpa diminta. Kesel sih nggak bisa redeem tapi yha mau bagaimana lagi.

After that, kalau kamu sudah selesai belanja dan punya tax free form kamu bisa tax redeem di Bandara (di counter khusus setelah check in) :)

That's all. Thank you for reading!
Januari 30, 2018 No komentar
Hallo guys, Annyeonghaseyo. Seminggu yang lalu, aku baru saja pergi ke Korea Selatan untuk liburan musim dingin. Aku pergi selama 5 hari 3 malam. Kenapa 3 malam? Karena di hari pertama aku tidur di pesawat dan landing di Incheon pagi hari. Aku pergi bersama travel agent dari Jakarta, grup kita isinya ada 20 orang yang semuanya strangers kecuali 6 orang sepupu aku.

  In this post, aku mau sharing mengenai pengalaman aku ke Korea Selatan dengan travel agent dan perlengkapan apa saja yang aku bawa terutama baju. Kenapa begitu? Well, personally waktu sebelum pergi aku bingung banget harus bawa baju berapa banyak, pakai berapa layer, jenis coat apa yang harus ku beli.

Let's get started.

Itinerary aku selama 5 hari sangat padat. Di hari kedua (hari pertama di pesawat) kami pergi ke Petite France, Nami Island. Hari ketiga Mount Sorak, Hwacheon Ice Festival. Hari keempat Kimchi School, Ginseng Shop, Duty Free, Nanta Show dan Myeongdong. Last day Red Pine Store, Namsan Tower dan akhirnya pulang.

The pros and cons about travelling with travel agent are:

Pros
  1. Pergi untuk pertama kali ke negara yang cukup jauh dari Indonesia dengan travel itu pilihan yang aman. Kamu nggak perlu repot bikin itinerary, apalagi di Korea orang-orangnya belum bisa bahasa inggris semua jadi pasti agak sulit untuk menggunakan transportasi umum.
  2. Selain itu, kamu diperhatiin terus! Di restoran Korea kamu boleh nambah kimchi, nasi, sayuran dan printilan makanan sepuasnya. Nah kalo kamu jalan sendiri, setiap kamu mau nambah pasti kamu harus bilang ke ahjumma-nya dulu kan tapi kalo kamu jalan sama travel, kamu cukup duduk cantik dan ngunyah terus karena even kimchi kami belum habis langsung ditambahin (oleh pegawai travel) tanpa perlu kami minta. 
  3. Setiap makan selalu ditawarin sambel a*c atau sambel terasi & di bus selalu dikasih cemilan LOL. Kalo air putih pasti dapet ya.
Cons
  1. Waktu yang diberikan di setiap tempat sometimes terasa terlalu sebentar (karna gue banci kamera & gak cukup foto cuma 1-2 kali).
  2. Sebagai kpop lovers, I'm so sad udah jauh-jauh datang ke Korea tapi nggak sempat foto di KStar Road, agency atau tempat-tempat syuting drama hahaha.
That's all untuk Pros and Cons about travelling with travel agent. Aku sangat merekomendasikan kamu untuk ikut travel agent kalo kamu pergi dengan keluarga (terutama untuk tipe keluarga  yang mau all in beres) karena kamu benar-benar dilayani dengan baik & nyaman sampe betah nggak mau balik Indonesia hahahaha.

Petite France

My travelling equipment

Jadi.. sebelum aku pergi aku cari-cari info mengenai suhu di Korea Selatan saat itu. Kata google suhu saat itu sekitar 3 sampai dengan -5 derajat celcius. Awalnya little panic karena takut nggak kuat menahan dinginnya udara disana (anaknya gampang ingusan) tapi I survive eventhough pulang-pulang demam, batuk pilek hahaha.
Setelah baca-baca blog orang aku dapat list pakaian apa saja yang harus aku beli yaitu:
Longjon, sweater, coat, sarung tangan.
Sebenarnya kalau mau pakai yang winter banget kamu bisa nambahin legging thermal, wool socks, winter boots, syal bulu-bulu, earmuff.
BUT because I travel on budget yang aku beli cuma yang aku list diatas dan itu semua cukup untuk menghalau dinginnya South Korea.

For travel 5D3N I brought:
2 Longjon, 4 sweaters, 1 shoes (dipake), 1 gloves, 2 coat.

Coat yang aku bawa itu padding coat dan wool coat. Sebenarnya bawa 1 coat dan 2 sweater itu cukup tapi ya demi foto yang hqq aku bawa lebih (LOL).
Semua sweater dan coat yang aku bawa bisa menahan dingin tapi tidak CUKUP. Karna titik dingin itu di tangan dan muka, jadi kamu harus banget bawa masker (atau bisa ditutup dengan syal kalo kamu nggak kacamata-an seperti aku) dan hotpack adalah uri bestfriend.

Sekarang.. dimana aku membeli itu semua?
Semua aku beli di Mangga 2. FYI, kalo kamu mau beli coat dan kamu anaknya peduli merk lebih baik beli di mall aja seperti di H&M, Pull n Bear, Uniqlo terutama pas lagi diskon. Karena harga coat di Mangga 2 dengan di toko-toko tersebut beda tipis apalagi kalo lagi diskon bisa lebih murah di mall. Tapi karena aku pergi mendadak jadi nggak sempat hunting-hunting deh huhu. 
Untuk jenis coat saat musim winter yang sampai minus dan salju, coat yang harus kamu punya itu coat parasut isinya bisa dakron atau bulu angsa. Bulu angsa lebih baik sih, lebih hangat. Setelah kamu beli itu dan masih ada budget lagi, baru kamu beli wool coat untuk gegayaan ala drama korea. Because wool coat kalau dipake saat salju turun pasti akan basah dan nggak menghangatkan badan. 
Terakhir, pakai sepatu yang nyaman! Sumpah aku karna gegayaan pakai sepatu boots tinggi ala-ala, kaki jadi pegel banget dan nggak kuat hiking di Mt. Sorak huhu sedih.

Metasequoia road di Nami Island
(saljunya udah meleleh)

 Gyeongbok Palace
(background yang too crowded tapi kalo nunggu sepi bisa-bisa ditinggal balik JKT)

Pakai hanbok di Kimchi School

That's all my story about my recent trip. Thank your for reading <3

PS: You can see my compilation about my trip on my youtbe. 
Click!



Januari 27, 2018 2 komentar
Hello readers! So in this post I'd liked to discuss about make up. Have you ever been told by someone that u'll look better without make up? And they said it when u wore a make up. I bet u did ya (iyain aja). Seriously, I really really really hate about that comment. I always have thought in my mind: Can u keep it for yourself? I'm happy with this make up on my face and I don't need your opinion. In my case only man/boy has those comments. I don't know why man (not most of them but some of them) never understand about woman addicted to make up (like we never understand why they love to play games). Well what do you think? You agree with me or with the commentators?

For me now, make up is like my second skin hahaha. I don't feel comfartable or confident with my self if I don't use lipstick or bb cream (these are my holygrail, I can't leave without them). And I am old enough to use it, so yeaah.

Because this is my first post about make up, I'd loved to share my make up product which I used on my friend's wedding (I was her bridesmaid).


Face: Maybelline Fit Me Matte Poreless Foundation shade 125, Maybelline Fit Me Concealer shade 10, Ponds BB Powder (Baking is the key of matte make up, believe me! U should leave it for 10 minutes)/ Blush and Bronzer: City Color Contour & Define/ Highlighter: City Color Highlight Palette Collection 1/ Brows: Maybelline Fashion Brow Cream Pencil shade grey/ Mascara: Maybelline The Falsies Push Up Drama/ Eyeshadow: Luxcrime Ultra Palette Golden Eyes/ Setting Spray: NYX Matte Finish Fini Mat/ Lipstick: Wardah Lipcream shade 03 (inner lips) & 12 (outer lips)

My make up last for 8 hours from 6 am (go to the wedding hall) until 2 pm (arrive at home). No cracking, no patchy and no sweating. Perfect matte all day! My skin type is normal to oily (only on T-Zone). The key point of this make up is baking, it really helped! Even I helped all my friends (bridesmaid too) to fixed their make up (only in 2 hours their make up already tuned into 'kilang minyak') I only need to baking it and voila everything was on point. Beside the baking techniques, you also need to choose the right product. Maybe some of you still looking for for some cheap drugstore matte product, I recommend those products. They are cheap, easy to find and perfect for beginner. Selamat mencoba :)

Thank you! XoXo

Januari 07, 2018 No komentar
My first post! After years I've never wrote this blog  I finally decide to write again. It was all because I'm official graduated and jobless so I don't have anything to do haha. I need to find a new hobby beside only find a job. 
First thing I'd like to write is my 2017 highlight based on instagram best nine which is my best moment in real life too (not only look happy in social media but in heart too haha).


So those are my best nine moment. My final test, my graduation, my fieldtrip to thailand, me doing make up and my best friend bridal shower. The best moment is my final, I feel so so relieved cause finally I'll say goodbye to this thesis thingy (almost). Second is my fieldtrip to Thailand. It was a nice experience and unforgettable moment, you can go Thailand wherever u can but go to Thailand with your classmates as a college student? You only have one chance. And I'm so glad, we made it. 
Beside having best moment with friends, in 2017 my appearance change a little bit too much (lol). I learned how to used make up and I can! I did my own make up for my graduation and bridesmaid. And I love it so much. I really love an effortless make up (eventhough for some people is not effortless but nah who care) and also I can save more for not hiring a professional make up artist (pardon my poor wallet haha).
Nethertheless, I love my days in 2017, I feel blessed and always have to.
Well, that's my story about my 2017. How about you?
Januari 05, 2018 5 komentar

About author

About Me

Hi! Dini is the author of this blog, lived in Jakarta, Indonesia.

She has interest in fashion, traveling and make up!

Follow Me On

Labels

Life (1) Make Up (2) Travel (4)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2018 (7)
    • ▼  Maret (1)
      • Purbasari Oil Control Matte Powder, Review!
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (4)

Readers

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates